MENDIDIKKAN NILAI-NILAI KEHIDUPAN DALAM PERSPEKTIF ASIA PACIFIC NETWORK FOR INTERNATIONAL EDUCATION AND VALUES EDUCATION (APNIEVE)

A. Landasan Berpikir

Dalam dunia kontemporer sudah sangat sering terjadi dunia kekerasan yang luar biasa. Karena itu, perlu dirancang suatu bentuk pendidikan untuk belajar hidup bersama dalam damai dan harmoni. Suatu bentuk pendidikan pengembangan belajar hidup bersama dengan orang lain, dengan semangat menghormati nilai-nilai pluralisme dan kebutuhan untuk saling pengertian, toleransi dan perdamaian. Proses belajar bersama yang akan memungkinkan terhindarnya pertikaian dan/atau memungkinkan penyelesaian pertikaian secara damai.

Dalam rangka kehidupan bersama untuk masa depan sebagai warga bangsa dan umat manusia adalah hendaklah sikap dan tindakan kita mencerminkan penghapusan semua bentuk diskriminasi, serta menegakkan perlindungan hak asasi manusia dan demokrasi. Juga mencerminkan sikap dan tindakan pembangunan yang adil berimbang, manusiawi dan berkelanjutan, perlindungan lingkungan serta perpaduan nilai-nilai kemanusiaan kontemporer dan tradisional.

Tatkala kita berpegang pada visi tersebut, dapat rasakan bahwa modernisasi dan urbanisasi yang sangat pesat dewasa ini merupakan problem-problem yang kita hadapi, karena keberhasilan ekonomi dan teknologi jauh lebih cepat dari pada pembangunan sosial dan budaya.

Secara mendasar, pendidikan adalah proses yang berlangsung seumur hidup yang tidak tergantung pada persekolahan, menjadi tanggung jawab bersama semua manusia dan menjadi suatu keharusan untuk dilakukan karena pendidikan merupakan bimbingan terhadap generasi agar menjadi generasi yang lebih baik.

UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 menyebutkan: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diriinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Sedangkan pendidikan menurut UNESCO (1999) yang dikutip oleh Hamid Darmadi menyebutkan bahwa: “Education is now engaged is preparinment for a type society which does not yet exist” atau bahwa pendidikan itu sekarang adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep sistem pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu, sekarang dan masa datang.

Sedangkan menurut Al Rasyidin pendidikan (yang direlevansikan dalam istilah pendidikan Islam) adalah proses pengembangan potensi yang mencakup secara utuh, integral, dan seimbang dimensi fisik (jismiyah) dan Psikis (Ruhiyah) manusia. Pengembangan dimensi fisik dilakukan dengan cara melatihkan berbagai keterampilan jasmaniyah agar peserta didik terampil melakukan tugas-tugas fisikal secar baik dan sempurna. Berbeda dengan itu, pengembangan dimensi psikis setidaknya menghendaki proses pembimbingan, pengarahan, pelatihan, perenungan, penghayatan, pelakonan dan pemberian contoh atau teladan kebaikan (uswah hasah). Dimensi psikis berkaitan secara simultan dengan kamampuan penalaran (al-Quwwah al-aqliyah), pengendalian diri karena (al-Quwwah al-nafsiyah), dan pencerahan diri (al-Quwwah al-qalbiyah). Karenanya, upaya pendidikan dalam pengembangan dimensi psikis tidak bisa dilakukan hanya melalui aktivitas pengajaran (instruction), apalagi bersifat parsial, sebagaimana yang banyak kita lakukan selama ini.

Jadi pendidikan yang sesungguhnya memainkan peranan yang fundamental untuk pembangunan pribadi dan sosial, telah dimanfaatkan hanya untuk menciptakan angkatan kerja terampil yang berakibat mengorbankan dan mengabaikan atas pembangunan seluruh pribadi. “Tujuan-tujuan jangka panjang dari nilai-nilai manusia dan prinsip-prinsip moral cenderung menjadi kurang penting pada waktu mereka harus bersaing dengan pertimbangan-pertimbangan ekonomis yang bersifat lebih segera”.

Sebagai warga bangsa yang masih dalam proses demokratisasi harus memiliki tekad yang sungguh-sungguh dalam menyebar-luaskan prinsip-prinsip nilai-nilai universal, seperti hak-hak asasi manusia untuk semua dan dalam promosi budaya toleransi dan perdamaian. Untuk tujuan ini sebagai pusat pendidikan, selalu menjadikan perhatian dan perioritas yang lebih besar pada pendidikan untuk perdamaian, hak asasi manusia dan demokrasi.

perubahan-perubahan dan tantangan-tantangan masa depan memerlukan pengertian yang lebih baik dari banyak orang bahkan dari seluruh dunia, dan bahwa hal itu juga menuntut pembelajaran untuk hidup dalam damai dan harmonis. Kita harus menekankan pada dimensi-dimensi kemanusia, budaya, dan internasional dalam melengkapi setiap pribadi untuk menjawab setiap kebutuhan-kebutuhan abad XXI ini

Belajar hidup bersama yang memerlukan suatu proses yang dinamis, holistik, sepanjang hayat melibatkan penduduk warga bangsa dari semua segmen masyarakat. Bentuk pendidikan hidup bersama dalam damai dan harmoni inilah yang dikonsepkan oleh UNESCO sebagai badan dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah pendidikan dan anak. Sebagai lembaga dunia yang bergerak di bidang ilmu , budaya dan  pendidikan. UNESCO melakukan Deklasrasi tentang pendidikan khususnya masalah pendidikan nilai yang mencoba menyusun konsep pendidikan yang mampu menciptakan kehidupan yang damai dan harmoni.

B. Sekilas tentang UNESCO dan APNIEVE

Keprihatinan dunia pendidikan terhadap masa depan kehidupan umat manusia hampir menyeluruh ditunjukkan oleh institusi mulia ini. Hal ini terutama terkait dengan proses penanaman kesadaran pentingnya memelihara dan menjadikan nilai sebagai motor penggerak semua aktifitas dalam dunia pendidikan itu sendiri. Memang hampir dapat dipastikan bahwa semua tindakan sadar manusia selalu berbasis pada nilai yang dianutnya, tetapi mengingat nilai itu sendiri memiliki tidak hanya varian-varian, tapi juga tingkatan-tingkatan, maka dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi tingkatan nilai yang menjadi tolok ukur dan penggerak suatu tindakan sadar, maka semakin tinggi makna tindakan itu. Demikian pula sebaliknya.

Dalam kehidupan yang mengglobal sekarang ini, terjadi arus besar dominasi nilai rendah terhadap nilai tinggi yang menimpa hampir seluruh dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali terhadap dunia pendidikan. Nilai-nilai yang profan mengalahkan nilai-nilai yang sakral, sebagai konsekuensi logis terjadinya sekularisasi besar-besaran termasuk terhadap dunia pendidikan itu sendiri. Bahkan sekularisasi itu juga tampak pada usulan UNESCO tentang empat pilar pendidikan di abad ke-21, yaitu: Learning to know; Learning to Do; Learning to be and Learning to live together.

  1. UNESCO

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB merupakan badan khusus PBB yang didirikan pada 1945. Tujuan organisasi adalah mendukung perdamaian dan keamanan dengan mempromosikan kerja sama antar negara melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya dalam rangka meningkatkan rasa saling menghormati yang berlandaskan kepada keadilan, peraturan hukum, HAM, dan kebebasan hakiki.

UNESCO memiliki anggota 191 negara. Organisasi ini bermarkas di Paris, Prancis, dengan 50 kantor wilayah serta beberapa institut dan pusat di seluruh dunia. UNESCO memiliki lima program utama yang disebarluaskan melalui: pendidikan, ilmu alam, ilmu sosial & manusia, budaya, serta komunikasi & informasi. Proyek yang disponsori oleh UNESCO termasuk program baca-tulis, teknis, dan pelatihan-guru; program ilmu internasional; proyek sejarah regional dan budaya, promosi keragaman budaya; kerja sama persetujuan internasional untuk mengamankan warisan budaya dan alam serta memelihara HAM; dan mencoba untuk memperbaiki perbedaan dijital dunia.

UNESCO dibentuk oleh 43 negara dunia. Lembaga ini bergerak di bidang ilmu, budaya, dan pendidikan. Tujuan pendirian organisasi ini adalah untuk membangun hubungan ilmu dan kebudayaan di antara berbagai negara serta menyebarkan buku-buku dalam berbagai bahasa. Dengan cara ini, diharapkan ikatan kebudayaan dunia semakin meningkat. Di antara poin penting yang tercantum dalam piagam pendirian UNESCO adalah penghormatan terhadap keadilan, pemerintahan hukum, perlindungan HAM, dan kebebasan asasi. Badan utama dalam UNESCO adalah Sekjen, Badan Pelaksana, dan Sidang Umum. Markas UNESCO terletak di Paris.

UNESCO memiliki mandat untuk mempromosikan perdamaian dan pembangunan kemanusiaan melalui strategi-strategi operasional dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan serta komunikasi dan informasi. Program-program UNESCO terfokus pada menyebarluaskan dan mempromosikan pentingnya Pendidikan untuk Semua; mendukung penyataan identitas kebudayaan; melindungi dan memperbaiki warisan alam dunia; terlibat dalam kontrak sosial baru antara ilmu pengetahuan dan masyarakat di segala tingkat; mengembangkan dan mempromosikan kebijakan-kebijakan sosial; mempromosikan ketersediaan arus informasi secara bebas; kebebasan press dan pengembangan keanekaragaman media; dan memperkuat kapasitas komunikasi di negara-negara berkembang.

  1. APNIEVE

Pendidikan merupakan salah satu tiang penting untuk mengubah budaya perang dan kekerasan menjadi budaya harmoni dan damai. Dengan berbagai upaya, dalam lima sampai 10 tahun mendatang, bukan tidak mungkin budaya perdamaian dan hidup selaras antarbangsa dan antarwarga bangsa dapat terwujud. Optimimisme itu muncul dari asumsi dan kenyataan bahwa pada dasarnya umat manusia bertabiat tidak menyenangi perang atau bentuk kekerasan lainnya. Untuk dapat mewujudkan hal itu maka UNESCO sebagai badan tertinggi dunia yang menangani masalah pendidikan, budaya dan ilmu mencoba membuat wahana pertukaran informasi yang bernama APNIEVE.

APNIEVE adalah singkatan dari Asia-Pacific Network for International Education and Values Education. APNIEVE lahir di musim semi di Seoul, Republik Korea, pada Rapat Organisasi untuk Formulir Jaringan Pakar Daerah dalam Pendidikan untuk Perdamaian, Hak Asasi Manusia dan Demokrasi (29-31 Maret 1995). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari sesi ke-44 Internasional Conference on Education (ICE) dan Konsultasi Regional Anggota Serikat Asia dan Pasifik diselenggarakan selama konfrensi di Jenewa, Oktober 1994.

APNIEVE adalah wahana saling tukar informasi dan pengalaman di bidang sistem nilai dan pendidikan yang bernama “UNESCO-PROAP/ APNIEVE (Principle Regional Office of Asia Pacific/Asia Pacific Network for International Education and Value Education) pertemuan ini bertema “Value Education: Learning to Live Together in Peace and Harmony”. Karena itu, konferensi akan membahas topik Perdamaian Dunia, Hak Asasi Manusia, Demokrasi, Pembangunan Berkelanjutan, Pendidikan Moral dan topik lain yang berkaitan dengan pendidikan nilai di negara-negara peserta.

APNIEVE filosofi dasarnya merupakan ungkapan dari perintah asli UNESCO yaitu Damai untuk Pengembangan dan Pengembangan untuk Damai. Misi pokok nya adalah perubahan bentuk budaya dari kekerasan dan peperangan untuk satu budaya damai.

C. Mendidikan Nilai-Nilai Kehidupan perspektif APNIEVE

Melihat fakta pendidikan saat ini betul-betul sangat mengkhawatirkan. Guru sebagai tanaga pendidik yang diharapkan mampu mentransferkan ilmu dan pengetahuannya masih belum dapat dikatakan maksimal dalam tugas dan kewajibannya. Saat ini tujuan pengajaran barangkali telah tercapai, sedangkan tujuan pendidikan dapat dikatakan belum tercapai secara maksimal. Guru masih menyandang status sebagai tenaga pengajar yang pada hakekatnya adalah sosok pendidik. Dengan segala rutintas dunia pendidikan guru hanya melepaskan tanggung jawabnya sebagai pengajar bukan sebagai pendidik.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Al Rasyidin bahwa “mencari guru mudah, tetapi mencari guru yang benar-benar mampu menjadi pendidik sangat sukar”. Artinya, secara kuantitatif, jumlah guru sebenarnya banyak, namun sedikit sekali di antara yang banyak tersebut yang betulbetul mampu mendidik. Meskipun tidak seluruhnya benar, namun pandangan miris ini layak menjadi bahan perenungan bagi seorang guru.

Menurut Mochtar Buchori yang dikutip oleh Al Rasyidin bahwa tidak sedikit guru yang mereduksi tuga-tugasnya hanya semata mengajarkan pengetahuan (transfer of knowlage), itu pun dominan pada tataran kognitif. Dalam kondisi seperti ini, pengembangan keterampilan dan nilai-nilai (skill values) senantiasa terabaikan, bahkan diabaikan. Kenyataan empiric seringkali memperlihatkan para guru yang masih cenderung berkutat pada aktivitas how to teach, belum sampai pada level how to educate, apalagi why to educate. Karenanya, tidak mengherankan jika peserta didik dan alumni lembaga-lembaga pendidikan banyak yang belum memiliki keterampilan hidup, tidak mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna, dan tidak mampu mamaknai kehidupannya.

Implementasi dari pendidikan yang sesuai dengan harapan hendaknya dapat menciptakan suatu tatanan kehidupan yang mampu mengharmoniskan hubungan antar manusia sebagai warga bangsa dan penduduk dunia. Sebagaimana yang dideklarasikan oleh UNESCO tentang belajar hidup bersama dalam damai dan hamonis (learning to live together in peace and harmony).

Perlu diusahakan pembaharuan yang menyeluruh dalam institusi pendidikan. Pertama adalah usaha restrukturisasi yaitu proses pelembagaan keyakinan, nilai dan norma baru tentang fungsi dasar, proses dan struktur suatu lembaga untuk menjamin kepastian, keadilan, dan pemanfaatan usaha pendidikan itu sendiri. Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah sangat mendukung usaha restrukturisasi ini, asal dilaksanakan dengan baik dan tepat. Desentralisasi pendidikan merupakan salah satu bentuk dari restrukturisasi. Kedua adalah rekulturisasi: yaitu proses pembudayaan perilaku seseorang atau kelompok atas keyakinan, nilai dan norma baru yang diharapkan. Pembudayaan nilai kreativitas, otonomi/kemandirian, dan relevansi pendidikan merupakan kunci rekulturasi. UNESCO merekomendasikan pembaharuan pendidikan dan pembelajaran yang amat menunjang proses ini, pada empat empat pilar konsep pokok paradigma pembelajaran dan pendidikan yang dirumuskan oleh UNESCO, yaitu:

a. Learning to know: guru hendaknya mampu menjadi fasilitator bagi peserta didiknya. Information supplier (ceramah, putar pita kaset) sudah tidak jamannya lagi. Peserta didik dimotivasi sehingga timbul kebutuhan dari dirinya sendiri untuk memperoleh informasi, keterampilan hidup (income generating skills), dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya.

b. Learning to do: peserta didik dilatih untuk secara sadar mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah pengetahuan, perasaan dan penghendakan. Peserta didik dilatih untuk aktif-positif daripada aktif-negatif. Pengajaran yang hanya menekankan aspek intelektual saja sudah usang.

c. Learning to live together: ini adalah tanggapan nyata terhadap arus deras spesialisme dan individualisme. Nilai baru seperti kompetisi, efisiensi, keefektifan, kecepatan, telah diterapkan secara keliru dalam dunia pendidikan. Sebagai misal, sebenarnya kompetisi hanya akan bersifat adil kalau berada dalam paying kooperatif dan didasarkan pada kesamaan kemampuan, kesempatan, lingkup, sarana, tanpa itu semua hanyalah merupakan kompetisi yang akan mengakibatkan yang “kalah” akan selalu “kalah”. Sekolah sebagai suatu masyarakat mini seharusnya mengajarkan “cooperatif learning”, kerjasama dan bersama-sama, dan bukannya pertandingan intelektualistik semata-mata, yang hanya akan menjadikan manusia pandai tetapi termakan oleh kepandaiannya sendiri dan juga membodohi orang lain. Sekolah menjadi suatu paguyuban penuh kekeluargaan dan mengembangkan daya cipta, rasa dan karsa, atau aspek-aspek kemanusiaan manusia.

d. Learning to be: dihayati dan dikembangkan untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Setiap peserta didik memiliki harga diri berdasarkan diri yang senyatanya. Peserta didik dikondisikan dalam suasana yang dipercaya, dihargai, dan dihormati sebagai pribadi yang unik, merdeka, berkemampuan, adanya kebebasan untuk mengekspresikan diri, sehingga terus menerus dapat menemukan jati dirinya. Subyek didik diberikan suasana dan sistem yang kondusif untuk menjadi dirinya sendiri.

Belajar hidup bersama adalah satu dari isu-isu pendidikan sekarang ini, karena dunia kontemporer sudah menjadi dunia kekerasan. Pertikaian telah terjadi sepanjang sejarah umat manusia, namun faktor-faktor baru telah menambah risiko, khususnya kemampuan yang luar biasa untuk penghancuran kemanusiaan itu sendiri yang diciptakan selama berabad-abad yang lalu dan terus dilanjutkan hingga abad ini. Oleh karena itu, kita percaya akan perlunya dirancang suatu bentuk pendidikan yang akan memungkinkan terhindarnya pertikaian-pertikaian atau penyelesaiannya secara damai melalui pengembangan belajar hidup bersama dengan orang-orang lain, dengan mengembangkan suatu semangat menghormati nilai-nilai pluralisme dan kebutuhan untuk saling pengertian, toleransi, dan perdamaian.

Di tengah perubahan global yang cepat, dunia tengah menghadapi tantangan yang meningkat yang menuntut perhatian segera dan mendasar. Tantangan-tantangan ini terkait dengan isu-isu perdamaian, hak asasi manusia, demokrasi, dan pembangunan berkelanjutan. Untuk dapat menyelesaikan isu-isu ini, penduduk dunia hendaklah dapat menerima perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bangsa ini dan segera mulai berusaha atas dasar persamaan-persamaan untuk kelangsungan hidup kemanusiaan.

Sebagai penduduk dunia kita harus selalu belajar hidup bersama berdasarkan saling menghormati dan memahami, saling membantu, berbagi dan peduli untuk kemanfaatan dan keuntungan semua. Belajar hidup bersama memerlukan suatu proses yang dinamis, holistik, sepanjang hayat melibatkan penduduk dunia bagi semua segmen masyarakat. Jika semua kualitas yang melekat pada pengertian belajar hidup bersama itu sudah diperhatikan dan dipertimbangkan, maka pendidikan untuk meraih perdamaian, hak-hak asasi manusia, demokrasi, dan pembangunan berkelanjutan sudah pasti merupakan suatu proses holistik yang saling terkait.

Pembangunan berkelanjutan yang meliputi semua aspek kehidupan manusia tidak dapat dicapai tanpa perdamaian. Perdamaian tidak mungkin dicapai tanpa demokrasi. Akan sulit meraih demokrasi dimana pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia masih terjadi.

Pendidikan untuk perdamaian, hak-hak asasi manusia, demokrasi, dan pembangunan berkelanjutan berarti pembangunan suatu kesadaran atas nilai-nilai universal. Namun, nilai-nilai ini hendaklah dipahami dalam konteks berbagai kebudayaan yang kita miliki. Untuk tujuan ini, pendidikan harus mempersiapkan setiap orang dengan keterampilan-keterampilan pemberdayaan yang bersifat hakiki untuk pengelolaan kehidupan dalam damai yang terus berubah secara cepat. Tujuan pendidikan untuk perdamaian, hak asasi manusia, demokrasi dan pembangunan berkelanjutan, yakni: mengembangkan cinta untuk kemanusiaan dan lingkungan; menciptakan kesadaran tentang pentingnya hidup dalam harmoni seorang dengan yang lain dan dengan lingkungan; mengembangkan dalam diri orang-perorang, keterampilan komunikasi antar pribadi dalam rangka promosi pengertian, kesadaran menerima dan toleransi; memberdayakan orang-perorang untuk memberi dan menerima; dan menciptakan kesadaran tentang keunikan orang-perorang dalam konteks sosio-budaya mereka. Disamping hal diatas juga mengembangkan kualitas hubungan-hubungan manusia melalui kesadaran atas martabat dan persamaan, saling mempercayai, dan penghargaan atas keyakinan dan kebudayaan orang-orang lain; promosi peran serta aktif dalam semua aspek kehidupan sosial, dan untuk menjamin kebebasan ekspresi (ungkapan), keyakinan, dan beribadat; dan mengembangkan pembuatan keputusan demokrasi yang efektif yang akan mengarah pada keadilan dan perdamaian. Selanjutnya menciptakan kesadaran tentang kebutuhan akan kebebasan dan kemandirian orang-perorang dengan penuh tanggung jawab; mengembangkan keterampilan penalaran, memberdayakan warga belajar untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan dan informasi; dan menciptakan kesadaran akan lingkungan yang akan mengembangkan pembangunan berkelanjutan dan kontinuitas ras manusia.

Belajar hidup bersama dalam perdamaian, hak-hak asasi manusia, mempraktekan demorasi dan mencapai pembangunan berkelanjutan, memerlukan pendekatan yang masuk akal dan terpadu untuk menjamin keterlibatan warga belajar yang mempunyai dampak pada setiap aspek warga belajar sebagai perorangan.

Empat nilai inti dari Learning to Live Together in Peace and Harmonys yakni, perdamaian (Peace), hak-hak asasi manusia (Human Rights), demokrasi (Democracy), dan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development), merupakan fungsi sentral pada tema Belajar Untuk Hidup Bersama Dalam Damai Dan Harmoni (Learning to Live Together in Peace and Harmonys).

Perdamaian (Peace)

Perdamaian adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal, bahwa seseorang tidak dapat memberikan sesuatu yang ia tidak punyai. Sebaliknya, seseorang tidak dapat berdamai dengan orang-orang lain dan dunia jika ia tidak berdamai dengan dirinya sendiri. Perdamaian mulai dengan kita masing-masing. Melalui pemikiran yang tenang dan sungguh-sungguh tentang maknanya, maka cara-cara baru dan kreatif dapat ditemukan untuk mengembangkan pengertian, persahabatan, dan kerjasama antar semua manusia, Dalam dunia sekarang ini, perdamaian merupakan barang yang jarang. Ini terbukti dari kecemasan orang-perorang dan melalui kurangnya pengertian yang layak antar manusia berbagai negara dan komunitas maupun masyarakat.

Suatu kebudayaan perdamian diperlukan untuk kehidupan bersama yang bermakna. Di dalam dunia dimana kemajemukan besar dalam tata cara pribadi, sosial dan budaya tentang keberadaan dan kehidupan, maka pemilikan nilai-nilai manusia yang penting dapat mengatasi perbedaan-perbedaan ini dan menjamin perdamaian dan solidaritas.

Proses pembangunan budaya perdamaian maupun perdamaian itu sendiri dimulai dari dalam hati setiap orang. Jika hal ini dapat dibagikan dengan kelompok-kelompok dan kebudayaan lain maka hal itu dapat menimbulkan perdamaian. Ambang pintu perdamaian adalah toleransi. Belajar untuk hidup bersama dalam damai dan harmoni itu meliputi toleransi. Toleransi: adalah penghormatan, kesediaan menerima, dan penghargaan atas keaneka-ragaman kebudayaan dunia kita, bentuk-bentuk ungkapan kita dan tata cara menjadi manusia. Hal itu dikembangkan oleh pengetahuan, keterbukaan, komunikasi, kebebasan pemikiran, kata hati dan keyakinan.

Toleransi adalah harmoni dalam perbadaan, bukan hanya tugas moral, tapi juga persyaratan politik dan hukum. Toleransi, kebajikan yang memungkinkan perdamaian, memberi kontribusi pada penggantian kebudayaan perang oleh kebudayaan damai. Toleransi adalah kunci koneksistensi damai. Penduduk yang damai adalah penduduk yang toleran. Mereka mengakui dalam lubuk hati yang dalam tentang keunikan dan keragaman yang dimiliki oleh setiap orang, dan perbedaan-perbedaan dapat melengkapi dan bukan membagi-bagi. Pertikaian dan salah pengertian dapat saja terjadi, namun manusia toleran mampu mengubah kondisi-kondisi ini menjadi positif dengan mengembangkan kemampuan untuk menghentikan perasaan yang panas.

Toleransi bukanlah pemberian, bukan sikap acuh tak acuh. Toleransi adalah pengetahuan tentang orang lain. Hal itu adalah saling menghormati melalui saling memahami. Manusia tidaklah keras karena alamnya. Ketidak-toleran tidaklah ada dalam gen-gen kita. Rasa takut dan kebodohan adalah akar penyebab ketidak-toleranan dan polanya dapat tertanam pada jiwa manusia mulai usia dini”.

Hak-hak Asasi Manusia (Human Rights)

Semua hak asasi manusia adalah universal, tidak terbagi, interdependen, dan saling terkait. Pendidikan adalah alat yang paling efektif untuk pengembangan nilai-nilai yang berhubungan. Pendidikan hak-hak asasi manusia haruslah mengembangkan kemampuan untuk menilai kebebasan pemikiran, kata hati, dan keyakinan; kemampuan untuk menilai kesamaan, keadilan dan rasa cinta; dan suatu kemampuan untuk mengasuh dan melindungi hak-hak anak, kaum wanita, kaum pekerja, minoritas etnik, kelompok-kelompok yang tak beruntung dan lain-lain.

Pendidikan hak-hak asasi manusia ditujukan pada pengembangan di dalam diri setiap orang suatu kesadaran atas nilai-nilai universal dan jenis-jenis tingkah laku dimana suatu kebudayaan tentang hidup bersama dalam damai dapat dijelaskan.

Demokrasi (Democracy)

Dunia sekarang telah menyaksikan penyebaran demokrasi sebagai bentuk pemerintah yang logis. Kecenderungan ini sudah menjadi lebih nyata di tahun-tahun sekarang ini. Demokrasi menambah pembangunan berbagai aspek potensi manusiawi melalui persamaan akses pada pendidikan dan peran serta aktif dalam semua aspek kehidupan sosial, ekonomi dan politik sudah tidak diragukan lagi. “Itulah pondasi perdamaian abadi.

Perdamaian, hak-hak asasi manusia, demokrasi, dan pembangunan berkelanjutan pada kenyataannya sangat terkait satu dengan yang lain. Tanpa yang satu dengan yang lain tak mungkin ada. Demokrasi tak mungkin tanpa perdamaian, dan perdamaian yang sebenarnya tidak mungkin tanpa demokrasi. Namun, Demokrasi bukanlah sesuatu yang dapat diproduk besar-besaran dan diekspor. Hal itu harus terus-mmenerus dicari dan diasuh. Tidak ada rumus konstitusional yang secara sempurna dirancang untuk menghasilkan demokrasi yang sudah dibuat siap. Apa yang dapat dilakukan adalah menetapkan kondisi-kondisi dimana demokrasi dapat berkembang jika bibit-bibitnya sudah ada dalam benak penduduk dan warga bangsa dan dunia.

Para warga negara dan dunia yang menjelaskan secara rasional yang menghormati martabat manusia dan yang berbagi suatu komitmen pada persamaan dan berusaha ke arah tujuan bersama adalah perlu jika demokrasi akan dipertahankan. Disinilah pendidikan memainkan peranan yang penting. Sebaliknya demokrasi memperkuat kesamaan akses pada pendidikan; peran serta aktif warga negara dalam semua aspek kehidupan sosial, ekonomi dan politik; dan menjamin kebebasan pemikiran dan ungkapan.

Pendidikan untuk demokrasi pada hakekatnya adalah untuk mengembangkan eksistensi manusia dengan jalan mengilhaminya dengan pengertian martabat dan persamaan, saling mempercayainya, toleransi, penghargaan pada kepercayaan dan kebudayaan orang lain, penghormatan pada individualitas, promosi peran serta aktif dalam semua aspek kehidupan sosial, kebebasan ekspresi, dan kepercayaan beribadat. Jika hal-hal ini dapat diwujudkan, maka mungkinlah untuk mengembangkan pengambilan keputusan yang efektif, demokrasi pada semua tingkatan yang akan mengarah pada kewajaran, keadilan dan perdamaian.

Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Perubahan-perubahan pesat dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial dan budaya penduduk adalah ciri-ciri kunci kawasan di belahan dunia sekarang pada titik sejarahnya. Pertumbuhan dan perkembangan, sampai batas yang luas termasuk meningkatkan kepedulian tentang lingkungan dan kebudayaan. Jika kita akan memberikan makna pada pengertian hidup bersama dalam damai dan harmoni di negara kita, maka pertumbuhan ini mesti direncanakan dan dikelola dengan berhati-hati dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

Pengertian pembangunan berkelanjutan meliputi pertimbangan-pertimbangan lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya-politik yang perlu dialamatkan dengan cara yang holistik dan terpadu. Pembangunan berkelanjutan dibataskan sebagai mencapai pemenuhan yang abadi atas kebutuhan-kebutuhan manusia dan perbaikan kualitas hidup manusia. Hal tersebut mestilah menjangkau tingkat yang bijaksana, pembagian kesejahteraan ekonomi yang adil dan dapat dipelihara sehingga generasi-generasi masa depan dapat memenuhi kebutuhan mereka sama baiknya dengan generasi terdahulu. Dengan kata lain: Pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi persyaratan-persyaratan masa kini tanpa merusak kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Nilai-nilai inti yang merupakan fungsi sentral pada tema: Belajar untuk Hidup Bersama dalam Damai dan Harmoni itu, yang pencapaiannya mutlak dilakukan melalui pendidikan yang seksama. Tanpa disosialisasikan dalam pendidikan, cita-cita indah ini mustahil dapat terlaksana,. Berbagai strategi pencapaian melalui pendidikan harus dicanangkan dengan seksama.

D. Penutup

Kesimpulan

Keprihatinan dunia pendidikan terhadap masa depan kehidupan umat manusia hampir menyeluruh ditunjukkan oleh institusi mulia ini. Hal ini terutama terkait dengan proses penanaman kesadaran pentingnya memelihara dan menjadikan nilai sebagai motor penggerak semua aktifitas dalam dunia pendidikan itu sendiri. Memang hampir dapat dipastikan bahwa semua tindakan sadar manusia selalu berbasis pada nilai yang dianutnya, tetapi mengingat nilai itu sendiri memiliki tidak hanya varian-varian, tapi juga tingkatan-tingkatan, maka dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi tingkatan nilai yang menjadi tolok ukur dan penggerak suatu tindakan sadar, maka semakin tinggi makna tindakan itu. Demikian pula sebaliknya.

Dalam kehidupan yang mengglobal sekarang ini, terjadi arus besar dominasi nilai rendah terhadap nilai tinggi yang menimpa hampir seluruh dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali terhadap dunia pendidikan. Nilai-nilai yang profane mengalahkan nilai-nilai yang sakral, sebagai konsekuensi logis terjadinya sekularisasi besar-besaran termasuk terhadap dunia pendidikan itu sendiri. Bahkan sekularisasi itu juga tampak pada usulan UNESCO tentang empat pilar pendidikan di abad ke-21, yaitu: Learning to know; Learning to Do; Learning to be and Learning to live together.

Implementasi dari pendidikan yang sesuai dengan harapan hendaknya dapat menciptakan suatu tatanan kehidupan yang mampu mengharmoniskan hubungan antar manusia sebagai warga bangsa dan penduduk dunia. Sebagaimana yang dideklarasikan oleh UNESCO tentang belajar hidup bersama dalam damai dan hamonis (learning to live together in peace and harmony).

Belajar hidup bersama dalam perdamaian, hak-hak asasi manusia, mempraktekan demorasi dan mencapai pembangunan berkelanjutan, memerlukan pendekatan yang masuk akal dan terpadu untuk menjamin keterlibatan warga belajar yang mempunyai dampak pada setiap aspek warga belajar sebagai perorangan.

Empat nilai inti dari Learning to Live Together in Peace and Harmonys yakni, perdamaian (Peace), hak-hak asasi manusia (Human Rights), demokrasi (Democracy), dan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development), merupakan fungsi sentral pada tema Belajar Untuk Hidup Bersama Dalam Damai Dan Harmoni (Learning to Live Together in Peace and Harmonys).

Saran

Nilai-nilai inti yang merupakan fungsi sentral pada tema: Belajar untuk Hidup Bersama dalam Damai dan Harmoni itu, yang pencapaiannya mutlak dilakukan melalui pendidikan yang seksama. Tanpa disosialisasikan dalam pendidikan, cita-cita indah ini mustahil dapat terlaksana,. Berbagai strategi pencapaian melalui pendidikan harus dicanangkan dengan seksama.

Daftar Bacaan

Al Rasyidin, Percikan Pemikiran Pendidikan; Dari Filsafat Hingga Praktik Pendidikan, Bandung: Citapustaka Media Perintis. 2009.

Darmadi, Hamid. Dasar Konsep Pendidikan Moral; Landasan Konsep Dasar dan Implementasi, Bandung: Alfabeta. 2009.

Departemen Agama, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI. 2006.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka. 2007.

Sadullah, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Alfabeta. 2009.

UNESCO-APNIEVE, Learning to Live Together in Peace and Harmony; Values Education for Peace, Human Rights, Democracy and Sustainable Development, Bangkok: UNESCO PROAP, 1998.

caring/sharing compassion empathy Gratitude interdependece love spirituality tolerance

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s